Penggunaan Media Massa Dalam Mempromosikan Informasi Kesehatan
Oleh: Ratna Sari Novianti - 915070094








MEDIA DAN PROMOSI/INFORMASI KESEHATAN MASYARAKAT
  • Penggunaan media massa dalam promosi kesehatan: bagian penting komunikasi kesehatan.
  • 50 tahun terakhir jadi kekuatan dahsyat bagi pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku. Memainkan peran dalam perubahan sosial

KEPRIBADIAN BERBAGAI MEDIA
  • Di satu sisi, media mendukung pendidikan kesehatan masyarakat
  • Di sisi lain, iklan juga hebat pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat.
- Iklan jadi tangan tak kasat mata yang memengaruhi kebijakan redaksi

- Iklan jadi penabuh genderang konsumsi

- “Say No” versus “Siapa Takut!”


PERUBAHAN SOSIAL vs KEMAPANAN

Media massa sebagai sarana promosi kesehatan yang efektif harus punya komitmen pada perubahan sosial. Celakanya, media justru berada dalam bisnis untuk mempertahankan kemapanan. Media dimanfaatkan dalam mutualisme konspiratif Penguasa dan Pengusaha. Penggunaan media massa untuk advokasi kesehatan jadi dilema. Advokasi kesehatan: politis & controversial.


TAK CUMA MESIN INFORMASI DAN HIBURAN

  • Media massa memang punya banyak kendala untuk memberdayakan kesehatan masyarakat
  • Namun ia kelewat berharga jika cuma dijadikan mesin informasi dan hiburan belaka
  • Terbukti media massa amat berperan dalam kegiatan KB, AIDS, anti-rokok


PEMASARAN SOSIAL

  • Pemasaran Sosial: model pendekatan sistematis menggunakan riset konsumen dan sejumlah saluran komunikasi untuk memengaruhi dan mengubah perilaku penduduk secara spesifik
  • Komunikasi Kesehatan = Gabungan aneka disiplin: pemasaran sosial, antropologi, analisis perilaku, advertising, komunikasi, pendidikan dll


5 LANGKAH PEMASARAN SOSIAL UNTUK KESEHATAN

1. Penilaian (assess)

2. Perencanaan (plan)

3. Pre-test materi edukasi (pre-test)

4. Penerapan intervensi (deliver)

5. Pemantauan (monitor)


PEMBERITAAN TERHADAP MEDIA

  • Pemberitaan media: penggunaan strategi media massa untuk meningkatkan inisiatif sosial dan masyarakat
  • Menstimulasi peliputan media secara luas untuk membentuk ulang debat publik dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi kebijakan publik yang efektif dalam masalah kesehatan masyarakat

Semiotik? Nama ini kok rasanya asing sekali ya di telingaku? Dudi jadi penasaran, apa itu semiotik. Mari kita tanya langsung ke Bapak Kurnia Setiawan seputar semiotik!



SEMIOTIK
Istilah semiotik berasal dari bahasa Yunani seme; semeiotikos; penafsir tanda, yang berarti ‘tanda’ . Sign dalam bahasa Inggris adalah ilmu yang mempelajari system tanda seperti bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Semiotik juga dikenal sebagai suatu ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana system penandaan berfungsi.

Perintis awal semiotika adalah Plato yang memeriksa asal muasal bahasa. Sedangkan aristoteles mencermati kata benda dalam bukunya yang berjudul Poetics dan On Interpretation. Pada semoitik terdapat perbedaan mendasar antara tanda alam (natural) dan tanda yang disepakati (konvensional). St. Agustinus (354 - 430) mengembangkan teori tentang signa data (tanda konvensional). Persoalan tanda menjadi obyek pemikiran filosofis.

Pada tahun 1285 – 1349, William of Ockham mempertajam studi mengenai tanda. Menurutnya, tanda dikategorikan berdasarkan sifatnya, apakah ia di alam mental dan bersifat pribadi atau hanya diucapkan/ditulis untuk publik. Sedangkan pada tahun 1632-1740, John Locke melihat eksplorasi tentang tanda akan mengarah pada terbentuknya baiss logika baru.
Konsep semiologi juga diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure. Ia mengkaji liguistik secara sinkronik, bukan diakronik. Saussure juga mendefinisikan tanda liguistik sebagai entitas dua sisi (dyad), sisi pertama disebut penanda (signifier) dan sisi kedua disebut petanda (signified).

Tanda diartikan sebagai kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Penanda adalah ”bunyi yang bermakna” atau ”coretan yang bermakna”. Penanda merupakan aspek material dari bahasa yaitu apa yang apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Sehingga dapat disimpulkan bahwa petanda adalah aspek mental dari bahasa.

Seorang filsuf berkebangsaan Amerika, Charles Sanders Peirce (1839-1914) mengembangkan filsafat pragmatis melalui kajian semiotik. Ia mengembangkan teori tanda yang dibentuk oleh tiga sisi, yaitu:
  1. Representamen (tanda)
  2. Objek (sesuatu yang dirujuk oleh tanda)
  3. Interpretant (efek yang ditimbulkan, hasil)
Fenomena sebuah tanda:
1. Firstness (perasaan murni) Representamen
2. Secondness (fakta yang muncul dari relasi) Objek
3. Thridness (aturan/ wilayah hukum) Interpretant
Contoh : Schubert memainkan komposisi

Peirce juga membedakan tiga konsep dasar semiotic, yaitu:
  • Sintaksis, mempelajari hubungan antar tanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama.
  • Semantik, mempelajari hubungan antara objek, tanda, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep ini akan digunakan utuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.
  • Pragmatik, mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda.

Roland Barthes (1915-1980) berpandangan bahwa sesuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiologi Barthes pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader).




Disusun oleh: Meta Kumalasari - 915070180
Dudi prihatin, belakangan ini banyak sekali wabah penyakit yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, kali ini Dudi mengujungi seorang pakar komunikasi kesehatan yaitu Bapak Irwan Julianto. Dari beliau, Dudi banyak mendapat ilmu seputar komunikasi kesehatan. Senang sekali wawasan ini terus bertambah!

MEDIA DAN PROMOSI/KOMUNIKASI KESEHATAN MASYARAKAT

  • Penggunaan media massa dalam promosi kesehatan: bagian penting komunikasi kesehatan.
  • 50 tahun terakhir jadi kekuatan dahsyat bagi pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku.
  • Memainkan peran dalam perubahan sosial


KEPRIBADIAN TERBELAH MEDIA

  • Di satu sisi, media mendukung pendidikan kesehatan masyarakat
  • Di sisi lain, iklan juga hebat pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat.
- Iklan jadi tangan tak kasat mata yang memengaruhi kebijakan redaksi
- Iklan jadi penabuh genderang konsumsi
- “Say No” versus “Siapa Takut!”


PERUBAHAN SOSIAL vs KEMAPANAN

  • Media massa sebagai sarana promosi kesehatan yang efektif harus punya komitmen pada perubahan sosial.
  • Celakanya, media justru berada dalam bisnis untuk mempertahankan kemapanan.
  • Media dimanfaatkan dalam mutualisme konspiratif Penguasa dan Pengusaha.
  • Penggunaan media massa untuk advokasi kesehatan jadi dilema.
  • Advokasi kesehatan: politis & kontroversial


TAK CUMA MESIN INFORMASI DAN HIBURAN

  • Media massa memang punya banyak kendala untuk memberdayakan kesehatan masyarakat
  • Namun ia kelewat berharga jika cuma dijadikan mesin informasi dan hiburan belaka
  • Terbukti media massa amat berperan dalam kegiatan KB, AIDS, anti-rokok


PEMASARAN SOSIAL

  • Pemasaran Sosial: model pendekatan sistematis menggunakan riset konsumen dan sejumlah saluran komunikasi untuk memengaruhi dan mengubah perilaku penduduk secara spesifik
  • Komunikasi Kesehatan = Gabungan aneka disiplin: pemasaran sosial, antropologi, analisis perilaku, advertising, komunikasi, pendidikan dll


5 LANGKAH PEMASARAN SOSIAL UNTUK KESEHATAN

  1. Penilaian (assess)
  2. Perencanaan (plan)
  3. Pre-test materi edukasi (pre-test)
  4. Penerapan intervensi (deliver)
  5. Pemantauan (monitor)


P- PROCESS

Model P-Process Johns Hopkins juga punya 5 langkah:

  1. Analisis
  2. Desain strategis
  3. Pengembangan-pretesting-revisi-produksi
  4. Manajemen-implementasi-pemantauan
  5. Evaluasi dampak

Langkah tambahan: perencanaan kelangsungan program


KEKUATAN DAN KELEMAHAN PEMASARAN SOSIAL

Pendekatan populer memanfaatkan prinsip-prinsip periklanan dan pemasaran untuk “menjual” perilaku sehat yang positif

Kerap dikritik hanya mempromosikan jalan keluar tunggal bagi masalah kesehatan masyarakat yang kompleks. Juga mengabaikan kondisi-kondisi yang dapat mempertahankan/meningkatkan penyakit


ADVOKASI MEDIA

Advokasi media: penggunaan strategik media massa untuk meningkatkan inisiatif sosial dan masyarakat.

Menstimulasi peliputan media secara luas untuk membentuk ulang debat publik dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi kebijakan publik yang efektif dalam masalah kesehatan masyarakat.

Advokasi media tak langsung berupaya mengubah perilaku berisiko individual.

  • Memfokuskan pada perubahan cara pemahaman masalah sebagai isu kesehatan masyarakat.
  • Contoh: mendorong peliputan media tentang aspek etis dan legal promosi rokok di kalangan remaja (Kasus Pall Mall).


KEKUATAN ADVOKASI MEDIA

  • Advokasi media: konsep yang relatif baru
  • Banyak dikaitkan dengan gerakan pengendalian rokok di AS, Inggris, Kanada
  • Esensi advokasi media lebih dari sekadar meningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang masalah kesehatan. Kekuatannya justru pada melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan publik.


JENIS-JENIS ADVOKASI LAIN

  • Selain advokasi media, ada advokasi litigasi, advokasi legislasi, dan advokasi masyarakat, serta advokasi pemerintah
  • Dengan mengadvokasi media, reporter hingga pemimpin redaksi dijadikan mitra
  • Jenis-jenis advokasi lain juga punya “nilai berita” bagi kalangan wartawan
  • Semuanya bersinergi jadi: KAMPANYE PUBLIK


SENJATA AMPUH: RASA MALU

  • Masyarakat mau mendengar apa-apa yang menarik bagi mereka.
  • Pejabat tertarik mendengar apa-apa yang mempermalukan mereka
  • Radio dapat amat efektif digunakan untuk advokasi kesehatan masyarakat:
  • Under-used media
  • Narrowcasting and self-targeting media


EVOLUSI JURNALISME

  • Tidak selalu “Bad news is good news”
  • Buktinya muncul Jurnalisme Damai (pada saat ethnic-cleansing di Rwanda), Compassionate Journalism (Jurnalisme Empati) untuk AIDS
  • Bukan hanya Jurnalisme Fakta, tapi sudah berevolusi menjadi Jurnalisme Makna, yang “memproduksi” makna


Disusun oleh: Ratna Sari Novianti - 915070094



Banyak yang sadar ke depan trend yang berkibar adalah informasi digital. Tapi walaupun banyak yang sadar, banyak juga yang latah mengeksekusinya. Lalu bagaimana membangun media online? Pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti. Hanya ada beberapa petunjuk – petunjuk atau mungkin boleh saya bilang selentingan pendapat dari sana sini. Kalau dari saya ini:

Content is the king ?

Membangun media online itu bukan berarti punya konten dengan kualitas dan kuantitas tinggi lalu memasangnya di internet. Jauh lebih dari situ. Ibaratnya kalau mau bikin restoran gudeg, punya resep gudeg yang super, lalu dapat investor bukan berarti restoran itu pasti sukses.

User Behaviour
Sangat perlu diingat, perilaku membaca di online dan offline itu berbeda. Sangat berbeda. Jadi penyajian konten di online pun harus punya strategi yang pas, yang sesuai dengan konten yang ingin disampaikan, dan siapa target pengunjung yang dituju. Kadangkala sebuah situs terlalu agresif, dengan tampilan halaman depan yang seolah – olah ingin berkata : “Kami punya konten ini lho.. Ini juga, tentang ini juga, oh iya yang ini juga, bahkan tentang ini.., dst..”. Sehingga yang tampak justru masing – masing konten bersaing satu sama lain agar mendapat perhatian.

Statistic
Memiliki konten online, dengan pengunjung bulanan sejumlah XXXX, bukan berarti situs itu layak dipasangi iklan dengan harga mahal. Darimana pengunjung situs itu? Pengunjung itu membuka situs anda karena memang ingin, atau hanya karena nyasar dari Google? Link dari situs lain kah? Setelah itu, berapa lama dia berada di situs anda? Di bagian mana? Kenapa? Pengunjung situs itu ngapain aja di situs anda? dst..

Visitors
Mengenali target pengunjung situs itu wajib dilakukan. Karena beda target, beda pendekatan, beda pula strategi maupun eksekusinya.

Marketing
Berjualan iklan di media online pun tidak mudah. Selain harus memahami faktor di atas, si penjual iklan harus juga bisa membawa calon pengiklan dalam pola pikir online. Berhubung pihak pengiklan bisa dikatakan raja, maka si penjual iklan pun seringkali tidak bisa memaksa membawa pemikiran mereka ke ranah online. Tapi yang paling parah adalah, kadang si penjual iklan itu sendiri tidak mengerti dunia online..!

Technology
Demi mengejar target agar bisa cepat online, seringkali keputusan penggunaan teknologi dilakukan dengan gegabah. Misal, memutuskan menggunakan sebuah framework MVC dengan bahasa program yang sama sekali baru bagi programmernya. Memutuskan menyerahkan pembuatan web pada pihak luar yang ternyata juga *hanya* menggunakan CMS jadi dengan sedikit sentuhan pada template. Sistem tambal sulam. Kadangkala, si pengambil kebijakan teknologi terkait itu pun memang tidak begitu memahami dunia online. Perancangan, penerapan, dan eksekusi pengembangan sistem dilakukan tanpa mengetahui bagaimana trend dunia online sesungguhnya. Sehingga ketika hal tersebut disadari, seringkali sudah terlambat.

Make Money
Ujung – ujungnya tentu kesini. Model bisnis banyak yang bisa diterapkan sebenarnya. Mereka yang berada di belakang berbagai situs tentu juga punya banyak ide model bisnis yang menarik. Tapi mungkin mereka yang disasar sebagai client masih belum bisa menerima model bisnis ini (khususnya di Indonesia). Jalan yang umum dipakai tentu saja iklan banner. Hingga kadangkala banner inilah yang mengganggu fungsionalitas dari website itu sendiri.

Culture
Nah ini yang menarik. Kultur yang dimaksud disini adalah pola kerja semua elemen di dalamnya. Media online tidak lepas dari dunia internet. Dunia yang sangat cepat berubah. Karena itu, mau tidak mau, elemen yang bergerak di belakang situs itu pun harus bisa cepat beradaptasi terhadap setiap perubahan. Kadangkala prosedur yang bertele – tele (dari sudut pandang online) membuat website tersebut lamban. Kadang juga mereka yang merasa lebih tahu urusan konten tidak luwes bekerjasama dengan mereka yang berada di belakang teknologi.
Mungkin di lain waktu, mereka yang merasa lebih tahu desain, tidak tanggap terhadap keinginan mereka yang mengurusi konten. Padahal pada dasaranya, mereka yang mengurusi konten belum tentu fasih dengan dunia online. Mereka yang mengurusi teknologi juga tidak mengerti betul konten seperti apa yang ingin dihadirkan. Tapi yang jelas mereka sebenarnya sejajar. Seperti rel dan kereta api. Tanpa rel, kereta api mungkin bisa jalan.., tapi menuju kematian. Sementara tanpa kereta api, rel hanya akan jadi logam hiasan di atas tanah.


Data statistik AC Nielsen 2007

- APJI Pengguna internet tumbuh 35 juta
  • Pengakses internet terbesar social network, email, news, game, search dan e-bisnis
  • Pengakses terbesar dari kantor (tempat kerja), warnet, hotspot, rumah, mobile dan tempat pendidikan.
  • Waktu berkunjung jam kerja
  • Usia terbesar usia 25-35
  • Spend time 2-4 jam
  • Pengguna internet tumbuh 35 juta
  • Tarif semakin murah
  • Jaringan global
  • Teknologi mampu menampilkan semua jenis berita
  • Iklan media online tumbuh
  • Akses mobile

Kekuatan media
  • Media cetak disajikan mendalam, koprehensif
  • Televisi menggunakan gambar baru trks
  • Radio mengutanakan suara ( audio)
  • Media online ruang atau aktu tidak terbatas, penyajian nisa berbentuk teks,foto, audio, maupun info grafik, interaktif/ forum/ social network.

New media
  • Era baru jurnalisme
  • Menyajikan semua jenis informasi
  • Convergent Journalism jadi trens
  • Proses produksi cross media
  • Jurnalis Multi Skill - Reporter bisa laporkan foto, video, radio, tulis.

KEBIJAKAN REDAKSIONAL
  • Portal menyajikan berita-berita yang singkat untuk menarik pengunjung/visitor dengan bahasa yang ringkas, lugas serta mudah dipahami.
  • Judul-judul berita portal sifatnya to the point, tidak kaku atau formal seperti berita di media cetak.
  • Berita portal harus disajikan dengan cepat, dan akurat (maksimal 4 alinea atau 1.000 karakter).
  • Wartawan portal tidak boleh membuat berita dengan narasumber yang tidak jelas identitasnya dan sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya.
  • Wartawan portal dilarang membuat berita berdasarkan wawancara imajiner.
  • Wartawan portal harus mengutamakan narasumber yang kompeten dengan isi berita.
  • Berita harus mengedepankan prinsip cover both side dengan tetap mengutamakan unsur kecepatan.
  • Berita portal tidak berisi serangan atau cercaan kepada pihak lain tanpa data dan fakta serta narasumber yang kompeten.
  • Berita portal harus menghindari isu-isu yang berbau SARA (suku, agama, ras).
  • Berita dari wartawan harus melalui proses editing oleh redaktur sebelum di up load.
  • Portal menyajikan berita dengan komposisi news, sport maupun lifestyle dengan porsi yang seimbang.
  • Berita portal disajikan secara lengkap dan sejelas mungkin. Bila perlu dengan banyak reportase dan data/riset tambahan.
  • Berita portal disajikan dengan cara yang paling efektif. Bila perlu disertai dengan elemen komunikasi lain seperti gambar, table, grafik dan lainnya.
  • Guna menjaga independensi dan profesionalitas, reporter dilarang menerima bingkisan/uang (amplop) dari narasumber. Suvernir diperbolehkan dengan batas maksimal Rp 150 ribu. Jika lebih dari itu harus dikembalikan ke narasumber.

Prinsip pokok penyajian media

  • Setiap berita disajikan lengkap 5W+1H (What/apa, When/kapan, Who/siapa, Where/dimana, Why/kenapa, How/bagaimana)
  • Obyek berita disorot dari berbagai sudut pandang (angle) tertentu yang tajam, sesuai ideologi medianya. Habisin semua angle.
  • Berita harus imbang (balance). Semua pihak yang tersangkut berita diminta pendapatnya. Pemuatan berita bisa ditunda beberapa saat untuk mendapatkan konfirmasi (tapi jangan kelamaan).
  • Judul berita to the point, lentur (tidak kaku), dan menghentak.
  • Penulisan berita tidak baku piramida terbalik. Bisa jadi linear. Informasi dari atas sampai bawah penting semua.
  • Penulisan harus lugas, jelas, tidak bertele-tele, pakai gaya bertutur.
  • Jangan mengubah kutipan (pernyataan orang harus persis). Kutipan dipilih yang khas atau unik. Hindari pendapat pribadi.
  • Lead berita harus bisa menunjukkan arti penting berita yang disajikan.
  • Libatkan emosi pembaca untuk menambah greget.
  • Laporan yang bersifat deskripsi harus disampaikan secara detil, tapi tidak mengada-ada (ex: feature atau peristiwa).
  • Bahasa padat dan seringkas mungkin. Hindari bahasa slogan dan klise.
  • Perhitungkan segi keamanan (jurnalis rentan somasi dll).


Disusun oleh: Eren - 915070083
Halo kawan, setelah beristirahat sejenak, Dudi kembali mengelilingi dunia pendidikan ini. dudi singgah di suatu kelas. Teman-teman di dalam kelas ini sedang seru berdiskusi tentang Simbol dan arsitektur. Topik ini dibawakan oleh Bapak Eduard Tjahyadi, Dipl.Ing. Jadi penasaran ada apa di balik bangunan-bangunan di sekitar kita..


SIMBOL
Simbol berasal dari kata symbolum dalam bahasa latin, dan dalam bahasa greek dituliskan dengan kata symbolon.
Simbol sendiri memiliki arti sebagai objek, gambar, tulisan, suara, dan tanda lainnya yang dianggap mewakili sesuatu yang lain menurut asosiasi, kemiripan, atau konvensi. Simbol ini banyak digunakan manusia untuk mengekpresikan sesuatu yang telah berlangsung sepanjang suatu kebudayaan berlangsung. Setiap simbol yang dipakai oleh manusia mencerminkan intelektual, emosi dan spirit mereka.Simbol tersebut juga memungkinkan terjalinnya suatu hubungan komunikasi manusia dalam bentuk tertulis maupun verbal, gambar, ataupun isyarat. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa simbol merupakan bahasa universal lintas budaya dan zaman.


ARSITEKTUR

Kata arsitektur berasal dari kata Architectura dalam bahasa latin dan arkitekton dalam bahasa Greek, yang memiliki arti kepala atau pemimpin dan pembangun, atau tukang kayu.
Arsitektur memiliki definisi sebagai seni dan ilmu merancang bangunan dan struktur fisik lainnya.
Jika didefinisikan lebih luas lagi, arsitektur meliputi seluruh kegiatan design dari level mikro, yakni design bangun-bangunan ; dan juga level makro yakni meliputi design tata perkotaan. Pada saat ini, banyak orang mengartikan arsitektur sendiri sebagai aktivitas merancang sistem apapun dan sering digunakan dalam dunia teknologi informasi.

level mikro













level makro




Manusia seringkali menganggap karya arsitektur sebagai
  • karya seni
  • simbol politik dan sejarah
Mengapa demikian?
Sejarah peradaban manusia seringkali diidentikkan dengan karya arsitektur yang masih ada sebagai bagian dari perjalanan peradaban manusia itu sendiri.


Arsitektur merupakan kelahiran dari perpaduan antara kebutuhan dan cara. Kebutuhan di dalamnya mencakup tempat tinggal, keamanan, ibadah, dan lain sebagainya. Sedangkan didalam cara, meliputi bahan bangunan, teknologi, dan keterampilan yang tersedia.

Dari hal tersebut, dapat ditarik suatu garis lurus bahwa arsitektur merupakan suatu tanda atau komunikasi.


Menurut Vitruvius, arsitek Roma pada awal abad ke-1 Masehi, bangunan yang baik ahrus memenuhi tiga prinsip (de Architectura), yaitu:
  1. firmitatis (daya tahan) - berdiri kokoh dengan daya tahan bangunan yang baik.
  2. utilitatis (utility) - mempunyai manfaat dan berfungsi dengan baik bagi orang yang memanfaatkannya.
  3. venustatis (keindahan) - menyenangkan orang dari segi artisitik.
Dalam peradaban kuno, arsitektur mencerminkan keterlibatan konstan antara hal-hal yang berbau ilahi dan supranatural. Budaya tradisional tersebut melibatkan faktor-faktor yang bersifat fisik dan non-fisik. Hal-hal yang berbau non-fisik biasanya bersifat simbolik, artinya simbol-simbol digunakan untuk mengkomunikasikan makna susunan tertentu.

Contohnya: China dan Indonesia

CHINA



"Kota Terlarang di Beijing dibangun pada Dinasti Ming dan Qing. Bangunan ini mencerminkan seni klasik bangunan Cina dan arsitektur feodal. Sejak tahun 1987, bangunan ini menjadi bangunan arsitektur yang dilindungin oleh UNESCO"

INDONESIA





"Kerat0n Yogyakarta merupakan pusat yang secara simbolis menghubungkan antara Gunung Merapi dan Pantai Selatan (Samudra Indonesia). Jika ditarik dengan menggunakan garis imajiner dan menghubungkannya secara vertikal, maka dapat dilihat hubungan antara mikrokosmos (yang tampak) dan makrokosmos (yang tidak tampak)."


SUSUNAN KOTA

Arsitektur bukan hanya sekedar tentang bangunan, tapi di dalamnya juga menyangkut dengan sistem/ tata kota. setiap negara mempunyai susnan kota yang berbeda satu sama lain, misalnya di Timur Tengah struktur kotanya bertentangan dengan bentuk-bentuk kota di Amerika Serikat.
Di Timur Tengah, masyarakatnya lebih membatasi perilaku dan mobilitas daripada meningkatankan pergerakan arus lalu lintas, ditambah pula dengan banyaknya distrik yang spesifik dalam hal etnik, religius, ataupun fungsi. Berbeda dengan Amerika Serikat yang lebih mengedepankan mobilitas dan keefisienan, serta fleksibilitas dalam beraktivitas.



SIMBOL dan ARSITEKTUR
Karya arsitektur dapat digunakan sebagai simbol dari:
  1. simbol kekuasaan politik
  2. simbol kebangkitan/ kejayaan bangsa
  3. simbol ekonomi
  4. simbol demokrasi
  5. simbol kemajuan teknologi
  6. simbol sustainability approach

1. Arsitektur sebagai simbol kekuasaan politik



" Buckingham Palace (Inggris) dan Phra Maha Boro Ratcha Wang (The Grand Palace of Thailand)"

2. Arsitektur Sebagai Simbol Kebangkitan/ Kejayaan Bangsa


"Gerbang Kemenangan di Perancis (Arch de Triomphe)"

3. Arsitektur Sebagai Simbol Ekonomi


"The Development in Shanghai (China)"

4. Arsitektur Sebagai Simbol Demokrasi


"Gedung MPR DPR RI, Jakarta - Indonesia"

5. Arsitektur sebagai Simbol Kemajuan Teknologi


" Cybertechture Egg - Mumbai, India"

6. Arsitektur Sebagai Simbol Sustainability Approach

"Green Building - Seoul, Korea Selatan"


"The Dancing Apartment - Korea Selatan"

Setelah melihat kilas balik tentang dunia arsitektur, kita dapat mengetahui bahwa bangunan bukan sekedar bangunan biasa, melainkan selalu ada kisah di balik pembuatan bangunan-bangunan tersebut. Bangunan karya para arsitek, merupakan bentuk komunikasi yang lain yang ingin mengatakan pada manusia bahwa selalu ada cerita dan makna dibalik berdirinya suatu bangunan.
Makna-makna secara simbolik dapat dinikmati manusia melalui bentuk artistik dan nilai historical suatu bangunan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa simbol dan arsitektur berkaitan erat dalam memaknai suatu bangunan sebagai tanda atau komunikasi.
Slide 46



Oleh: Christina Alfiani -915079006
Halo pembaca, teman-temanku semua..
Aku sudah menuliskan beberapa ilmu dan pengetahuan yang kudapat dari perjalanan singkat ini. perjalanan ini tidak akan berhenti begitu saja disini. Masih banyak hal yang ingin aku bagi dan ceritakan kepada kalian. Jangan bosan mengunjungi, membaca, dan memberi masukkan untuk catatanku ini yah.

Oh iya, dalam mengumpulkan bahan catatan ini, aku dibantu oleh beberapa teman-temanku yang baik. Inilah mereka yang telah banyak membantuku:

  • Christina Alfiani - 915079006
  • Eren - 915070083
  • Layly Hasanah - 915070097
  • Meta Kumalasari - 915070180
  • Putu Arjun - 915070161
  • Ratna Sari Novianty - 915070094

Terima kasih!
-Dudi-








nb: Blog ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah penilaian Kapita Selekta. Kami berupaya membuat blog seakan blog ini adalah hasil penceritaan dari seorang tokoh yang bernama Dudi. Ia merefleksikan diri kami yang sedang mengikuti pertemuan pada setiap mata kuliah. Selamat menikmati!
Ilmu yang aku dapat hari ini, sangat menarik sekali. Aku belajar mengenai hukum dan komunikasi. Ilmu ini kudapat dari Bapak S. Atalim. Pertemuan ini menjadi menarik karena aku memperoleh ilmu tidak hanya secara teoritis, tapi pertemuan ini menjadi lebih seperti bincang-bincang menarik. Kami membahas isu-isu aktual lalu bersama-sama mencari jalan keluarnya. Seru sekali! -Dudi-


Menurut Plato hukum merupakan peraturan-peraturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat. Dalam bukunya Inleiden tot de studie van het Nederlandse recht oleh Apeldoorn,ia menyatakan bahwa, tujuan hukum adalah mengatur tata tertib dalam masyarakat secara damai dan adil. Rusli Effendy (1991:79) mengemukakan bahwa tujuan hukum dapat dapat dikaji melalui tiga sudut pandang, yaitu :

1. Dari sudut pandang ilmu hukum normatif, tujuan hukum dititik beratkan pada segi kepastian hukum.

2. Dari sudut pandang filsafat hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi keadilan.

3. Dari sudut pandang sosiologi hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi kemanfaatan.

Adapun tujuan hukum pada umumnya atau tujuan hukum secara universal, dapat dilihat dari tiga aliran konvensional :

1. Aliran Etis

Aliran ini menganggap bahwa pada asasnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk mencapai keadilan. Hukum ditentukan oleh keyakinan yang etis tentang adil dan yang tidak adil, dengan perkataan lain hukum menurut aliran ini bertujuan untuk merealisir atau mewujudkan keadilan. Pendukung aliran ini antara lain, Aristoteles, Gery Mil, Ehrliek, Wartle. Sedangkan penetang aliran ini pun cukup banyak, antara lain pakar hukum Sudikno Mertokusumo: “Jika dikatakan bahwa hukum itu bertujuan untuk mewujudkan keadilan, itu berarti bahwa hukum itu identik atau tumbuh dengan keadilan, hukum tidaklah identik dengan keadilan. Dengan demikian berarti teori etis itu berat sebelah” (Achmad Ali, 1996:86).

Tegasnya keadilan atau apa yang dipandang sebagai adil sifatnya sangat relatif, abstrak dan subyektif. Ukuran adil bagi tiap-tiap orang bisa berbeda-beda. Olehnya itu tepat apa yang pernah diungkapkan oleh N.E. Algra bahwa :

“Apakah sesuatu itu adil (rechtvaardig), lebih banyak tergantung pada Rechtmatig heid (kesesuaian dengan hukum) pandangan pribadi seseorang penilai. Kiranya lebih baik tidak mengatakan “itu adil”, tetapi itu mengatakan hal ini saya anggap adil memandang sesuatu itu adil, terutama merupakan sesuatu pendapat mengenai nilai secara pribadi. Achmad Ali (1990:97).

2. Aliran Utilistis

Menurut aliran ini mengaggap bahwa pada asasnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kemanfaatan atau kebahagiaan yang sebsar-besarnya bagi manusia dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya. Jadi pada hakekatnya menurut aliran ini, tujuan hukum adalah manfaat dalam mengahasilkan kesenangan atau kebahagiaan yang terbesar bagi jumlah orang yang terbanyak.

Aliran utilistis ini mempunyai pandangan bahwa tujuan hukum tidak lain adalah bagaiamana memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi warga masyarakat (ajaran moral praktis).

3. Aliran Yuridis Dogmatik

Menurut aliran ini menganggap bahwa pada asasnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum, fungsi hukum dapat berjalan dan mampu mempertahankan ketertiban.

Penganut aliran yuridis dogmatik ini bahwa adanya jaminan hukum yang tertuang dari rumusan aturan perundang-undangan adalah sebuah kepastian hukum yang harus diwujudkan. Kepastian hukum adalah syarat mutlak setiap aturan, persoalan keadilan dan kemanfaatan hukum bukan alasan pokok dari tujuan hukum tetapi yang penting adalah kepastian hukum.

Bagi penganut aliran ini, janji hukum yang tertuang dalam rumusan aturan ini merupakan kepastian yang harus diwujudkan, penganut aliran ini melupakan bahwa sebenarnya janji hukum itu bukan sesuatu yang harus, tetapi hanya sesuatu yang seharusnya.


Ketiga aliran tujuan hukum di atas tidaklah bersifat baku, dalam artian masih ada pendapat-pendapat lain tentang tujuan hukum yang bisa dilambangkan dengan melihat latar belakang konteks sosial masyarakat yang selalu berubah-ubah. Selain itu pembahasan mengenai tujuan hukum tidak lepas dari sifat hukum dari masing-masing masyarakat yang memiliki karakteristik atau kekhususan karena pengaruh falsafah yang menjelma menjadi ideologi masyarakat atau bangsa yang sekaligus berfungsi sebagai citra hukum. Bila dikaitkan dengan masalah Gayus, aliran mana yang paling paling sesuai???



Untuk mencapai tujuan yang dapat menciptakan kedamaian, ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat, terutama masyarakat yang kompleks dan mejemuk seperti di Indonesia, maka kita sebaiknya menganut asas prioritas yang kasuistis yang ketika tujuan hukum diprioritaskan sesuai kasus yang dihadapi dalam masyarakat, sehingga pada kasus tertentu dapat diprioritaskan salah satu dari ketiga asas tersebut sepanjang tidak mengganggu ketenteraman dan kedamaian yang merupakan tujuan akhir dari hukum itu sendiri.


Oleh: Meta Kumalasari - 915070180