Dunia ini makin panas. Orang beramai-ramai menyerukan global warming. Perlahan-lahan, setiap aspek kehidupan mulai diubah arahnya menuju sesuatu yang hijau, dan ramah lingkungan.
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.
Kreativitas para arsitek yang tidak pernah mati dan luntur oleh peradaban, mulai menciptakan bangunan-bangunan baru yang ramah lingkungan. Bangunan-bangunan tersebut didesain sedemikian rupa agar bisa menyeimbangkan ekosistem yang sedikit demi sedikit keadaannya mulai rusak. Ketika mulai membuat sketsa bangunan, para arsitek mulai memikirkan komposisi apa yang tepat untuk bangunan mereka.
Bahan-bahan yang digunakan sebisa mungkin dicari bahan yang tidak merusak lingkungan. Seperti yang kita ketahui, selama ini bangunan-bangunan banyak menggunakan kayu sebagai kerangkanya. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium. Pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan inilah yang terus diinovasikan dalam arsitektur hijau.
Pembenahan lingkungan hijau, dapat dimulai dari hal-hal yang kecil seperti misalnya renovasi rumah tinggal. Apabila masyarakat menyadari perannya untuk menjaga kelestarian alam, maka arsitektur hijau dan bangunan ramah lingkungan dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kelangsungan alam sekitar.
Kesetaraan perempuan dan laki-laki telah menjadi pembicaraan sejak dulu. Melalui perjalanan panjang untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan telah mengalami diskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin, dan perbedaan secara sosial (gender), akhirnya pada tahun 1979 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui Konferensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Konferensi ini lebih dikenal dengan istilah CEDAW dan menjadi acuan utama untuk Hak Asasi Perempuan (HAP). Konferensi ini sebenarnya telah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1984 menjadi UU No. 7/1984, tetapi tidak pernah disosialisasikan dengan baik oleh negara.
Konferensi maupun UU tersebut pada kenyataannya tidak juga sanggup menghapus diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Di seluruh dunia masih ada perempuan yang mengalami segala bentuk kekerasan (kekerasan fisik, mental, seksual dan ekonomi) baik di rumah, di tempat kerja maupun di masyarakat. Oleh karena itu PBB kembali mengeluarkan deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1993. Deklarasi ini tidak begitu dikenal oleh pemerintah Indonesia, sehingga jarang diacu dalam persidangan ataupun dalam penyelesaian masalah-masalah hukum yang berhubungan dengan kekerasan berbasis gender.
Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Manakah perbedaan yang dialami (pemberian Tuhan) dan manakah yang dipelajari atau diperoleh
atau perbedaan yang dibangun oleh masyarakat sendiri ? Ketidak setaraan antara perempuan dan laki-laki berawal dari kerancuan pemahaman antara perbedaan alami dan yang tidak alami tersebut.
Gender
Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah segala perbedaan biologis yang dibawa lahir antara perempuan dan laki-laki. Di luar semua itu adalah perbedaan yang dikenal dengan istilah gender. Perbedaan yang tidak alami atau perbedaan sosial mengacu pada perbedaan peranan dan fungsi yang dikhususkan untuk perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut diperoleh melalui proses sosialisasi atau pendidikan di semua institusi (keluarga, pendidikan, agama, adat dan sebagainya). Gender penting untuk dipahami dan dianalisis untuk melihat apakah perbedaan yang bukan alami ini telah menimbulkan diskriminasi dalam arti perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap perempuan.
Apakah gender telah memposisikan perempuan secara nyata menjadi tidak setara dan menjadi subordinat oleh pihak laki-laki?
Gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-laki dan maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. Sementara perempuan digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus,
lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media. Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara sosial; masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan gender.
Karena citra ideal itu rekaan budaya, disebut juga sebagai gender, dalam kenyataannya, tidak selalu demikian. Kita tahu ada saja perempuan yang tidak lemah lembut, yang agresif, pencari nafkah, dan de facto sebagai kepala keluaga. Sebaliknya kita juga sering menemui laki-laki yang lemah lembut, de facto bukan pencari nafkah, dsb. Akan tetapi gambaran gender itu tetap menjadi pedoman hidupnya dalam melihat dirinya maupun dalam melihat lawan jenisnya. Sebab itu bagi sebagian besar perempuan, yang masih kental dipengaruhi oleh gambaran ideal gender, akan sulit sekali keluar dari gambaran ideal itu, meskipun barangkali perempuan itu sudah berpendidikan tinggi, dengan jabatan struk-tural/fungsional, pernah tinggal/hidup di kebudayaan lain karena memang sudah menjadi kebudayaannya. Keadaan ini juga yang menjadi hambatan bagi perempuan untuk "tampil" dan berpartisipasi di domain yang secara budaya bukan domainnya. Ada rasa risi. Pekerjaan di kantor dalam hubungan citra budaya, bukanlah tempat perempuan. Kalaupun mereka bekerja, karena berbagai alasan memang harus bekerja, jarang mau "menonjolkan diri", karena takut dijuluki berambisi atau agresif. Sebab itu banyak dari perempuan-perempuan yang berpotensi, dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, tidak mengembangkan kemam-puannya. Padahal perempuan yang jumlahnya lebih dari separuh itu seharusnya merupakan sumber daya manusia yang potensial dan berkualitas.
Penggunaan Media Massa Dalam Mempromosikan Informasi Kesehatan
Oleh: Ratna Sari Novianti - 915070094
MEDIA DAN PROMOSI/INFORMASI KESEHATAN MASYARAKAT
Penggunaan media massa dalam promosi kesehatan: bagian penting komunikasi kesehatan.
50 tahun terakhir jadi kekuatan dahsyat bagi pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku. Memainkan peran dalam perubahan sosial
KEPRIBADIAN BERBAGAI MEDIA
Di satu sisi, media mendukung pendidikan kesehatan masyarakat
Di sisi lain, iklan juga hebat pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat.
- Iklan jadi tangan tak kasat mata yang memengaruhi kebijakan redaksi
- Iklan jadi penabuh genderang konsumsi
- “Say No” versus “Siapa Takut!”
PERUBAHAN SOSIAL vs KEMAPANAN
Media massa sebagai sarana promosi kesehatan yang efektif harus punya komitmen pada perubahan sosial. Celakanya, media justru berada dalam bisnis untuk mempertahankan kemapanan. Media dimanfaatkan dalam mutualisme konspiratif Penguasa dan Pengusaha. Penggunaan media massa untuk advokasi kesehatan jadi dilema. Advokasi kesehatan: politis & controversial.
TAK CUMA MESIN INFORMASI DAN HIBURAN
Media massa memang punya banyak kendala untuk memberdayakan kesehatan masyarakat
Namun ia kelewat berharga jika cuma dijadikan mesin informasi dan hiburan belaka
Terbukti media massa amat berperan dalam kegiatan KB, AIDS, anti-rokok
PEMASARAN SOSIAL
Pemasaran Sosial: model pendekatan sistematis menggunakan riset konsumen dan sejumlah saluran komunikasi untuk memengaruhi dan mengubah perilaku penduduk secara spesifik
Komunikasi Kesehatan = Gabungan aneka disiplin: pemasaran sosial, antropologi, analisis perilaku, advertising, komunikasi, pendidikan dll
5 LANGKAH PEMASARAN SOSIAL UNTUK KESEHATAN
1. Penilaian (assess)
2. Perencanaan (plan)
3. Pre-test materi edukasi (pre-test)
4. Penerapan intervensi (deliver)
5. Pemantauan (monitor)
PEMBERITAAN TERHADAP MEDIA
Pemberitaan media: penggunaan strategi media massa untuk meningkatkan inisiatif sosial dan masyarakat
Menstimulasi peliputan media secara luas untuk membentuk ulang debat publik dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi kebijakan publik yang efektif dalam masalah kesehatan masyarakat
Semiotik? Nama ini kok rasanya asing sekali ya di telingaku? Dudi jadi penasaran, apa itu semiotik. Mari kita tanya langsung ke Bapak Kurnia Setiawan seputar semiotik!
SEMIOTIK Istilah semiotik berasal dari bahasa Yunani seme; semeiotikos; penafsir tanda, yang berarti ‘tanda’ . Sign dalam bahasa Inggris adalah ilmu yang mempelajari system tanda seperti bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Semiotik juga dikenal sebagai suatu ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana system penandaan berfungsi.
Perintis awal semiotika adalah Plato yang memeriksa asal muasal bahasa. Sedangkan aristoteles mencermati kata benda dalam bukunya yang berjudul Poetics dan On Interpretation. Pada semoitik terdapat perbedaan mendasar antara tanda alam (natural) dan tanda yang disepakati (konvensional). St. Agustinus (354 - 430) mengembangkan teori tentang signa data (tanda konvensional). Persoalan tanda menjadi obyek pemikiran filosofis.
Pada tahun 1285 – 1349, William of Ockham mempertajam studi mengenai tanda. Menurutnya, tanda dikategorikan berdasarkan sifatnya, apakah ia di alam mental dan bersifat pribadi atau hanya diucapkan/ditulis untuk publik. Sedangkan pada tahun 1632-1740, John Locke melihat eksplorasi tentang tanda akan mengarah pada terbentuknya baiss logika baru. Konsep semiologi juga diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure. Ia mengkaji liguistik secara sinkronik, bukan diakronik. Saussure juga mendefinisikan tanda liguistik sebagai entitas dua sisi (dyad), sisi pertama disebut penanda (signifier) dan sisi kedua disebut petanda (signified).
Tanda diartikan sebagai kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Penanda adalah ”bunyi yang bermakna” atau ”coretan yang bermakna”. Penanda merupakan aspek material dari bahasa yaitu apa yang apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Sehingga dapat disimpulkan bahwa petanda adalah aspek mental dari bahasa.
Seorang filsuf berkebangsaan Amerika, Charles Sanders Peirce (1839-1914) mengembangkan filsafat pragmatis melalui kajian semiotik. Ia mengembangkan teori tanda yang dibentuk oleh tiga sisi, yaitu:
Representamen (tanda)
Objek (sesuatu yang dirujuk oleh tanda)
Interpretant (efek yang ditimbulkan, hasil)
Fenomena sebuah tanda: 1. Firstness (perasaan murni) Representamen 2. Secondness (fakta yang muncul dari relasi) Objek 3. Thridness (aturan/ wilayah hukum) Interpretant Contoh : Schubert memainkan komposisi
Peirce juga membedakan tiga konsep dasar semiotic, yaitu:
Sintaksis, mempelajari hubungan antar tanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama.
Semantik, mempelajari hubungan antara objek, tanda, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep ini akan digunakan utuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.
Pragmatik, mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda.
Roland Barthes (1915-1980) berpandangan bahwa sesuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiologi Barthes pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader).
Dudi prihatin, belakangan ini banyak sekali wabah penyakit yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, kali ini Dudi mengujungi seorang pakar komunikasi kesehatan yaitu Bapak Irwan Julianto. Dari beliau, Dudi banyak mendapat ilmu seputar komunikasi kesehatan. Senang sekali wawasan ini terus bertambah!
MEDIA DAN PROMOSI/KOMUNIKASI KESEHATAN MASYARAKAT
Penggunaan media massa dalam promosi kesehatan: bagian penting komunikasi kesehatan.
50 tahun terakhir jadi kekuatan dahsyat bagi pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku.
Memainkan peran dalam perubahan sosial
KEPRIBADIAN TERBELAH MEDIA
Di satu sisi, media mendukung pendidikan kesehatan masyarakat
Di sisi lain, iklan juga hebat pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat.
- Iklan jadi tangan tak kasat mata yang memengaruhi kebijakan redaksi - Iklan jadi penabuh genderang konsumsi - “Say No” versus “Siapa Takut!”
PERUBAHAN SOSIAL vs KEMAPANAN
Media massa sebagai sarana promosi kesehatan yang efektif harus punya komitmen pada perubahan sosial.
Celakanya, media justru berada dalam bisnis untuk mempertahankan kemapanan.
Media dimanfaatkan dalam mutualisme konspiratif Penguasa dan Pengusaha.
Penggunaan media massa untuk advokasi kesehatan jadi dilema.
Advokasi kesehatan: politis & kontroversial
TAK CUMA MESIN INFORMASI DAN HIBURAN
Media massa memang punya banyak kendala untuk memberdayakan kesehatan masyarakat
Namun ia kelewat berharga jika cuma dijadikan mesin informasi dan hiburan belaka
Terbukti media massa amat berperan dalam kegiatan KB, AIDS, anti-rokok
PEMASARAN SOSIAL
Pemasaran Sosial: model pendekatan sistematis menggunakan riset konsumen dan sejumlah saluran komunikasi untuk memengaruhi dan mengubah perilaku penduduk secara spesifik
Komunikasi Kesehatan = Gabungan aneka disiplin: pemasaran sosial, antropologi, analisis perilaku, advertising, komunikasi, pendidikan dll
5 LANGKAH PEMASARAN SOSIAL UNTUK KESEHATAN
Penilaian (assess)
Perencanaan (plan)
Pre-test materi edukasi (pre-test)
Penerapan intervensi (deliver)
Pemantauan (monitor)
P- PROCESS
Model P-Process Johns Hopkins juga punya 5 langkah:
Analisis
Desain strategis
Pengembangan-pretesting-revisi-produksi
Manajemen-implementasi-pemantauan
Evaluasi dampak
Langkah tambahan: perencanaan kelangsungan program
KEKUATAN DAN KELEMAHAN PEMASARAN SOSIAL
Pendekatan populer memanfaatkan prinsip-prinsip periklanan dan pemasaran untuk “menjual” perilaku sehat yang positif
Kerap dikritik hanya mempromosikan jalan keluar tunggalbagi masalah kesehatan masyarakat yang kompleks. Juga mengabaikan kondisi-kondisi yang dapat mempertahankan/meningkatkan penyakit
ADVOKASI MEDIA
Advokasi media: penggunaan strategik media massa untuk meningkatkan inisiatif sosial dan masyarakat.
Menstimulasi peliputan media secara luas untuk membentuk ulang debat publik dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi kebijakan publik yang efektif dalam masalah kesehatan masyarakat.
Advokasi media tak langsung berupaya mengubah perilaku berisiko individual.
Memfokuskan pada perubahan cara pemahaman masalah sebagai isu kesehatan masyarakat.
Contoh: mendorong peliputan media tentang aspek etis dan legal promosi rokok di kalangan remaja (Kasus Pall Mall).
KEKUATAN ADVOKASI MEDIA
Advokasi media: konsep yang relatif baru
Banyak dikaitkan dengan gerakan pengendalian rokok di AS, Inggris, Kanada
Esensi advokasi media lebih dari sekadar meningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang masalah kesehatan. Kekuatannya justru pada melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan publik.
JENIS-JENIS ADVOKASI LAIN
Selain advokasi media, ada advokasi litigasi, advokasi legislasi, dan advokasi masyarakat, serta advokasi pemerintah
Dengan mengadvokasi media, reporter hingga pemimpin redaksi dijadikan mitra
Jenis-jenis advokasi lain juga punya “nilai berita” bagi kalangan wartawan
Semuanya bersinergi jadi: KAMPANYE PUBLIK
SENJATA AMPUH: RASA MALU
Masyarakat mau mendengar apa-apa yang menarik bagi mereka.
Pejabat tertarik mendengar apa-apa yang mempermalukan mereka
Radio dapat amat efektif digunakan untuk advokasi kesehatan masyarakat:
Under-used media
Narrowcasting and self-targeting media
EVOLUSI JURNALISME
Tidak selalu “Bad news is good news”
Buktinya muncul Jurnalisme Damai (pada saat ethnic-cleansing di Rwanda), Compassionate Journalism (Jurnalisme Empati) untuk AIDS
Bukan hanya Jurnalisme Fakta, tapi sudah berevolusi menjadi Jurnalisme Makna, yang “memproduksi” makna
Banyak yang sadar ke depan trend yang berkibar adalah informasi digital. Tapi walaupun banyak yang sadar, banyak juga yang latah mengeksekusinya. Lalu bagaimana membangun media online? Pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti. Hanya ada beberapa petunjuk – petunjuk atau mungkin boleh saya bilang selentingan pendapat dari sana sini. Kalau dari saya ini:
Content is the king ?
Membangun media online itu bukan berarti punya konten dengan kualitas dan kuantitas tinggi lalu memasangnya di internet. Jauh lebih dari situ. Ibaratnya kalau mau bikin restoran gudeg, punya resep gudeg yang super, lalu dapat investor bukan berarti restoran itu pasti sukses.
User Behaviour Sangat perlu diingat, perilaku membaca di online dan offline itu berbeda. Sangat berbeda. Jadi penyajian konten di online pun harus punya strategi yang pas, yang sesuai dengan konten yang ingin disampaikan, dan siapa target pengunjung yang dituju. Kadangkala sebuah situs terlalu agresif, dengan tampilan halaman depan yang seolah – olah ingin berkata : “Kami punya konten ini lho.. Ini juga, tentang ini juga, oh iya yang ini juga, bahkan tentang ini.., dst..”. Sehingga yang tampak justru masing – masing konten bersaing satu sama lain agar mendapat perhatian.
Statistic Memiliki konten online, dengan pengunjung bulanan sejumlah XXXX, bukan berarti situs itu layak dipasangi iklan dengan harga mahal. Darimana pengunjung situs itu? Pengunjung itu membuka situs anda karena memang ingin, atau hanya karena nyasar dari Google? Link dari situs lain kah? Setelah itu, berapa lama dia berada di situs anda? Di bagian mana? Kenapa? Pengunjung situs itu ngapain aja di situs anda? dst..
Visitors Mengenali target pengunjung situs itu wajib dilakukan. Karena beda target, beda pendekatan, beda pula strategi maupun eksekusinya.
Marketing Berjualan iklan di media online pun tidak mudah. Selain harus memahami faktor di atas, si penjual iklan harus juga bisa membawa calon pengiklan dalam pola pikir online. Berhubung pihak pengiklan bisa dikatakan raja, maka si penjual iklan pun seringkali tidak bisa memaksa membawa pemikiran mereka ke ranah online. Tapi yang paling parah adalah, kadang si penjual iklan itu sendiri tidak mengerti dunia online..!
Technology Demi mengejar target agar bisa cepat online, seringkali keputusan penggunaan teknologi dilakukan dengan gegabah. Misal, memutuskan menggunakan sebuah framework MVC dengan bahasa program yang sama sekali baru bagi programmernya. Memutuskan menyerahkan pembuatan web pada pihak luar yang ternyata juga *hanya* menggunakan CMS jadi dengan sedikit sentuhan pada template. Sistem tambal sulam. Kadangkala, si pengambil kebijakan teknologi terkait itu pun memang tidak begitu memahami dunia online. Perancangan, penerapan, dan eksekusi pengembangan sistem dilakukan tanpa mengetahui bagaimana trend dunia online sesungguhnya. Sehingga ketika hal tersebut disadari, seringkali sudah terlambat.
Make Money Ujung – ujungnya tentu kesini. Model bisnis banyak yang bisa diterapkan sebenarnya. Mereka yang berada di belakang berbagai situs tentu juga punya banyak ide model bisnis yang menarik. Tapi mungkin mereka yang disasar sebagai client masih belum bisa menerima model bisnis ini (khususnya di Indonesia). Jalan yang umum dipakai tentu saja iklan banner. Hingga kadangkala banner inilah yang mengganggu fungsionalitas dari website itu sendiri.
Culture Nah ini yang menarik. Kultur yang dimaksud disini adalah pola kerja semua elemen di dalamnya. Media online tidak lepas dari dunia internet. Dunia yang sangat cepat berubah. Karena itu, mau tidak mau, elemen yang bergerak di belakang situs itu pun harus bisa cepat beradaptasi terhadap setiap perubahan. Kadangkala prosedur yang bertele – tele (dari sudut pandang online) membuat website tersebut lamban. Kadang juga mereka yang merasa lebih tahu urusan konten tidak luwes bekerjasama dengan mereka yang berada di belakang teknologi. Mungkin di lain waktu, mereka yang merasa lebih tahu desain, tidak tanggap terhadap keinginan mereka yang mengurusi konten. Padahal pada dasaranya, mereka yang mengurusi konten belum tentu fasih dengan dunia online. Mereka yang mengurusi teknologi juga tidak mengerti betul konten seperti apa yang ingin dihadirkan. Tapi yang jelas mereka sebenarnya sejajar. Seperti rel dan kereta api. Tanpa rel, kereta api mungkin bisa jalan.., tapi menuju kematian. Sementara tanpa kereta api, rel hanya akan jadi logam hiasan di atas tanah.
Data statistik AC Nielsen 2007
- APJI Pengguna internet tumbuh 35 juta
Pengakses internet terbesar social network, email, news, game, search dan e-bisnis
Pengakses terbesar dari kantor (tempat kerja), warnet, hotspot, rumah, mobile dan tempat pendidikan.
Waktu berkunjung jam kerja
Usia terbesar usia 25-35
Spend time 2-4 jam
Pengguna internet tumbuh 35 juta
Tarif semakin murah
Jaringan global
Teknologi mampu menampilkan semua jenis berita
Iklan media online tumbuh
Akses mobile
Kekuatan media
Media cetak disajikan mendalam, koprehensif
Televisi menggunakan gambar baru trks
Radio mengutanakan suara ( audio)
Media online ruang atau aktu tidak terbatas, penyajian nisa berbentuk teks,foto, audio, maupun info grafik, interaktif/ forum/ social network.
New media
Era baru jurnalisme
Menyajikan semua jenis informasi
Convergent Journalism jadi trens
Proses produksi cross media
Jurnalis Multi Skill - Reporter bisa laporkan foto, video, radio, tulis.
KEBIJAKAN REDAKSIONAL
Portal menyajikan berita-berita yang singkat untuk menarik pengunjung/visitor dengan bahasa yang ringkas, lugas serta mudah dipahami.
Judul-judul berita portal sifatnya to the point, tidak kaku atau formal seperti berita di media cetak.
Berita portal harus disajikan dengan cepat, dan akurat (maksimal 4 alinea atau 1.000 karakter).
Wartawan portal tidak boleh membuat berita dengan narasumber yang tidak jelas identitasnya dan sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Wartawan portal dilarang membuat berita berdasarkan wawancara imajiner.
Wartawan portal harus mengutamakan narasumber yang kompeten dengan isi berita.
Berita harus mengedepankan prinsip cover both side dengan tetap mengutamakan unsur kecepatan.
Berita portal tidak berisi serangan atau cercaan kepada pihak lain tanpa data dan fakta serta narasumber yang kompeten.
Berita portal harus menghindari isu-isu yang berbau SARA (suku, agama, ras).
Berita dari wartawan harus melalui proses editing oleh redaktur sebelum di up load.
Portal menyajikan berita dengan komposisi news, sport maupun lifestyle dengan porsi yang seimbang.
Berita portal disajikan secara lengkap dan sejelas mungkin. Bila perlu dengan banyak reportase dan data/riset tambahan.
Berita portal disajikan dengan cara yang paling efektif. Bila perlu disertai dengan elemen komunikasi lain seperti gambar, table, grafik dan lainnya.
Guna menjaga independensi dan profesionalitas, reporter dilarang menerima bingkisan/uang (amplop) dari narasumber. Suvernir diperbolehkan dengan batas maksimal Rp 150 ribu. Jika lebih dari itu harus dikembalikan ke narasumber.
Prinsip pokok penyajian media
Setiap berita disajikan lengkap 5W+1H (What/apa, When/kapan, Who/siapa, Where/dimana, Why/kenapa, How/bagaimana)
Obyek berita disorot dari berbagai sudut pandang (angle) tertentu yang tajam, sesuai ideologi medianya. Habisin semua angle.
Berita harus imbang (balance). Semua pihak yang tersangkut berita diminta pendapatnya. Pemuatan berita bisa ditunda beberapa saat untuk mendapatkan konfirmasi (tapi jangan kelamaan).
Judul berita to the point, lentur (tidak kaku), dan menghentak.
Penulisan berita tidak baku piramida terbalik. Bisa jadi linear. Informasi dari atas sampai bawah penting semua.
Penulisan harus lugas, jelas, tidak bertele-tele, pakai gaya bertutur.
Jangan mengubah kutipan (pernyataan orang harus persis). Kutipan dipilih yang khas atau unik. Hindari pendapat pribadi.
Lead berita harus bisa menunjukkan arti penting berita yang disajikan.
Libatkan emosi pembaca untuk menambah greget.
Laporan yang bersifat deskripsi harus disampaikan secara detil, tapi tidak mengada-ada (ex: feature atau peristiwa).
Bahasa padat dan seringkas mungkin. Hindari bahasa slogan dan klise.
Perhitungkan segi keamanan (jurnalis rentan somasi dll).
Halo kawan, setelah beristirahat sejenak, Dudi kembali mengelilingi dunia pendidikan ini. dudi singgah di suatu kelas. Teman-teman di dalam kelas ini sedang seru berdiskusi tentang Simbol dan arsitektur. Topik ini dibawakan oleh Bapak Eduard Tjahyadi, Dipl.Ing. Jadi penasaran ada apa di balik bangunan-bangunan di sekitar kita..
SIMBOL Simbol berasal dari kata symbolum dalam bahasa latin, dan dalam bahasa greek dituliskan dengan kata symbolon.
Simbol sendiri memiliki arti sebagai objek, gambar, tulisan, suara, dan tanda lainnya yang dianggap mewakili sesuatu yang lain menurut asosiasi, kemiripan, atau konvensi. Simbol ini banyak digunakan manusia untuk mengekpresikan sesuatu yang telah berlangsung sepanjang suatu kebudayaan berlangsung. Setiap simbol yang dipakai oleh manusia mencerminkan intelektual, emosi dan spirit mereka.Simbol tersebut juga memungkinkan terjalinnya suatu hubungan komunikasi manusia dalam bentuk tertulis maupun verbal, gambar, ataupun isyarat. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa simbol merupakan bahasa universal lintas budaya dan zaman.
ARSITEKTUR Kata arsitektur berasal dari kata Architectura dalam bahasa latin dan arkitekton dalam bahasa Greek, yang memiliki arti kepala atau pemimpin dan pembangun, atau tukang kayu.
Arsitektur memiliki definisi sebagai seni dan ilmu merancang bangunan dan struktur fisik lainnya.
Jika didefinisikan lebih luas lagi, arsitektur meliputi seluruh kegiatan design dari level mikro, yakni design bangun-bangunan ; dan juga level makro yakni meliputi design tata perkotaan. Pada saat ini, banyak orang mengartikan arsitektur sendiri sebagai aktivitas merancang sistem apapun dan sering digunakan dalam dunia teknologi informasi.
level mikro
level makro
Manusia seringkali menganggap karya arsitektur sebagai
karya seni
simbol politik dan sejarah
Mengapa demikian?
Sejarah peradaban manusia seringkali diidentikkan dengan karya arsitektur yang masih ada sebagai bagian dari perjalanan peradaban manusia itu sendiri.
Arsitektur merupakan kelahiran dari perpaduan antara kebutuhan dan cara. Kebutuhan di dalamnya mencakup tempat tinggal, keamanan, ibadah, dan lain sebagainya. Sedangkan didalam cara, meliputi bahan bangunan, teknologi, dan keterampilan yang tersedia.
Dari hal tersebut, dapat ditarik suatu garis lurus bahwa arsitektur merupakan suatu tanda atau komunikasi.
Menurut Vitruvius, arsitek Roma pada awal abad ke-1 Masehi, bangunan yang baik ahrus memenuhi tiga prinsip (de Architectura), yaitu:
firmitatis (daya tahan) - berdiri kokoh dengan daya tahan bangunan yang baik.
utilitatis (utility) - mempunyai manfaat dan berfungsi dengan baik bagi orang yang memanfaatkannya.
venustatis (keindahan) - menyenangkan orang dari segi artisitik.
Dalam peradaban kuno, arsitektur mencerminkan keterlibatan konstan antara hal-hal yang berbau ilahi dan supranatural. Budaya tradisional tersebut melibatkan faktor-faktor yang bersifat fisik dan non-fisik. Hal-hal yang berbau non-fisik biasanya bersifat simbolik, artinya simbol-simbol digunakan untuk mengkomunikasikan makna susunan tertentu.
Contohnya: China dan Indonesia
CHINA
"Kota Terlarang di Beijing dibangun pada Dinasti Ming dan Qing. Bangunan ini mencerminkan seni klasik bangunan Cina dan arsitektur feodal. Sejak tahun 1987, bangunan ini menjadi bangunan arsitektur yang dilindungin oleh UNESCO"
INDONESIA
"Kerat0n Yogyakarta merupakan pusat yang secara simbolis menghubungkan antara Gunung Merapi dan Pantai Selatan (Samudra Indonesia). Jika ditarik dengan menggunakan garis imajiner dan menghubungkannya secara vertikal, maka dapat dilihat hubungan antara mikrokosmos (yang tampak) dan makrokosmos (yang tidak tampak)."
SUSUNAN KOTA Arsitektur bukan hanya sekedar tentang bangunan, tapi di dalamnya juga menyangkut dengan sistem/ tata kota. setiap negara mempunyai susnan kota yang berbeda satu sama lain, misalnya di Timur Tengah struktur kotanya bertentangan dengan bentuk-bentuk kota di Amerika Serikat.
Di Timur Tengah, masyarakatnya lebih membatasi perilaku dan mobilitas daripada meningkatankan pergerakan arus lalu lintas, ditambah pula dengan banyaknya distrik yang spesifik dalam hal etnik, religius, ataupun fungsi. Berbeda dengan Amerika Serikat yang lebih mengedepankan mobilitas dan keefisienan, serta fleksibilitas dalam beraktivitas.
SIMBOL dan ARSITEKTUR Karya arsitektur dapat digunakan sebagai simbol dari:
simbol kekuasaan politik
simbol kebangkitan/ kejayaan bangsa
simbol ekonomi
simbol demokrasi
simbol kemajuan teknologi
simbol sustainability approach
1. Arsitektur sebagai simbol kekuasaan politik
" Buckingham Palace (Inggris) dan Phra Maha Boro Ratcha Wang (The Grand Palace of Thailand)"
2. Arsitektur Sebagai Simbol Kebangkitan/ Kejayaan Bangsa
"Gerbang Kemenangan di Perancis (Arch de Triomphe)"
3. Arsitektur Sebagai Simbol Ekonomi
"The Development in Shanghai (China)"
4. Arsitektur Sebagai Simbol Demokrasi
"Gedung MPR DPR RI, Jakarta - Indonesia"
5. Arsitektur sebagai Simbol Kemajuan Teknologi
" Cybertechture Egg - Mumbai, India"
6. Arsitektur Sebagai Simbol Sustainability Approach
"Green Building - Seoul, Korea Selatan"
"The Dancing Apartment - Korea Selatan"
Setelah melihat kilas balik tentang dunia arsitektur, kita dapat mengetahui bahwa bangunan bukan sekedar bangunan biasa, melainkan selalu ada kisah di balik pembuatan bangunan-bangunan tersebut. Bangunan karya para arsitek, merupakan bentuk komunikasi yang lain yang ingin mengatakan pada manusia bahwa selalu ada cerita dan makna dibalik berdirinya suatu bangunan.
Makna-makna secara simbolik dapat dinikmati manusia melalui bentuk artistik dan nilai historical suatu bangunan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa simbol dan arsitektur berkaitan erat dalam memaknai suatu bangunan sebagai tanda atau komunikasi.
Blog ini dibuat untuk memenuhi syarat mata kuliah Kapita Selekta di FIKOM UNTAR.
Karya-karya di dalamnya disusun oleh:
Christina Alfiani(915079006)
Eren(915070083)
Meta Kumalasari(915070180)
Layly Hasanah(915070097)
Putu Arjun(915070161)
Ratna Sari Novianti(915070094)